Profil

Tentang PKAuM

Pada tahun 2010 Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Peraturan perundangan ini menggantikan peraturan sebelumnya yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Perubahan peraturan perundang-undangan terkait cagar budaya itu dilatarbelakangi adanya paradigma baru dalam  pengelolaan dan pelestarian cagara budaya. Dalam hal ini yaitu pemahaman bahwa cagar budaya atau warisan budaya adalah milik masyarakat. Dengan demikian pengelolaan dan pelestarian cagar budaya tentunya diarahkan untuk kepentingan masyarakat. Dalam undang-undang tersebut secara tegas diamanahkan bahawa upaya pengelolaan cagar budaya bertujuan untuk meningkatkan peluang kesejahteraan masyarakat sebagai pemilik syah cagar budaya.

Arkeologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji kebudayaan manusia masa lalu melalui peninggalan budaya materialnya, memiliki kaitan langsung dengan pelestarian dan pengelolaan cagar budaya dan warisan budaya. Objek kajian arkeologi memiliki nilai penting yang menjadikannya memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi pentingnya hasil-hasil penelitian arkeologi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada pertengahan 2015 PKAuM atau Pusat Kajian Arkeologi  didirikan sebagai lembaga yang memfokuskan pada upaya penyebarluasan hasil penelitian arkeologi kepada masyarakat. Dengan demikian diharapkan pengetahuan dan wawasan masyarakat akan kandungan nilai penting pada objek kajian arkeologi semakin meningkat. Sehingga dapat berdampak pada kesadaran akan penting pelestarian cagar budaya dan warisan budaya.

PKAuM menjadi lembaga independen yang bersinergi dengan institusi pendidikan dalam hal ini Departemen Arkeologi Universitas Hasanuddin, selain itu juga membangun jejaring dengan instansi arkeologi maupun lembaga pelestarian cagar budaya di Indonesia, dan organisasi profesi arkeologi yaitu Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). PKAuM dalam menjalankan peran kelembagaannya berupaya untuk dapat memberikan bantuan teknis yang diperlukan oleh semua pihak dalam membantu melestarikan sumber daya arkeologi. Kemitraan yang diperluas ini dimaksudkan untuk membawa keahlian PKAuM dalam bantuan teknis dibidang arkeologi dan pelestarian cagar budaya bersama dalam konservasi koleksi dan program pendidikan untuk menciptakan sumber yang komprehensif untuk sumber daya arkeologi di Indonesia.

PKAuM berkembang untuk melayani berbagai khalayak, pemerintah, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan masyarakat umum – dengan beragam alat dan layanan termasuk pelatihan profesional, sumber penelitian, pengajaran arkeologi dan pencagarbudayaan, publikasi profesional, pemrograman publik dan sekolah, pameran, peralatan pendidikan dan sumberdaya internet. Meskipun jangkauan dan jangkauan kami telah sangat berkembang sejak hari-hari awal, misi dasar kami tetap konstan: untuk mendorong pelestarian sumberdaya arkeologi dan warisan budaya Indonesia melalui kombinasi penelitian, publikasi, koleksi konservasi, bantuan teknis dan pendidikan. Bangun bina bakti Arkeologi Indonesia Jaya, Lestari warisan budaya bangsa.

About PKAuM

In 2010 the Government of the Republic of Indonesia established Law No. 11 of 2010 concerning Cultural Heritage. This regulation supersedes the previous statute, namely Law No. 5 of 1992 concerning Cultural Heritage Objects. The change in laws and regulations related to cultural heritage is based on the existence of a new paradigm in the management and preservation of cultural heritage. In this case, the understanding is that cultural heritage or cultural heritage belongs to the community. Thus the management and conservation of cultural heritage must be directed to the interests of the community. In the law, it is expressly mandated that efforts to manage cultural heritage aim to increase the opportunities for the welfare of the community as shah owners of cultural heritage.

Archaeology as a scientific discipline that examines past human culture through its cultural heritage, has a direct connection with the preservation and management of cultural heritage and cultural heritage. The object of archaeology studies has a significant value that makes it meet the criteria of cultural heritage. This is then the background of the importance of the results of archaeological research that can be accessed by all levels of society.

In mid-2015 PKAuM or the Center for Archaeological Studies was established as an institution that focused on efforts to disseminate the results of archaeological research to the community. Thus, it is expected that the knowledge and insights of the community on the importance of the objects of archaeological studies will increase. So that it can have an impact on the awareness of the importance of preserving cultural heritage and cultural heritage.

PKAuM is an independent institution that synergises with educational institutions, in this case, the Archeology Department of Hasanuddin University, besides that it also builds networks with archaeological institutions and cultural preservation institutions in Indonesia, and the archaeological profession organisation namely the Indonesian Archaeological Association (IAAI). PKAuM in carrying out its institutional role seeks to be able to provide technical assistance needed by all parties to help preserve archaeological resources. This expanded partnership is intended to bring PKAuM expertise in technical support in archaeology and the preservation of shared cultural heritage in the conservation of collections and educational programs to create a comprehensive source for archaeological resources in Indonesia.

PKAuM is developing to serve a variety of audiences, governments, local governments, community groups and the general public – with a range of tools and services including professional training, research resources, archaeology and cultural teaching, professional publications, public programming and schools, exhibitions, educational equipment and resources Internet. Even though our reach and reach have been remarkably developed since the early days, our fundamental mission remains constant: to encourage the preservation of archaeological resources and Indonesia’s cultural heritage through a combination of research, publications, conservation collections, technical assistance and education.